Totopong, Iket Penutup Kepala Khas Sunda: Jenis, Sejarah, dan Maknanya

Totopong adalah ikat kepala atau semacam topi khas Sunda. Berikut ini pengertian, sejarah, filosofi, dan jenis-jenis totopong iket kepala khas urang Sunda.

Totopong, Iket Penutup Kepala Khas Sunda

Totopong adalah iket (ikat, pengikat) kepala khas Sunda. Totopong merupakan jenis tutup kepala tradisional Sunda yang terbuat dari kain dan dipakai dengan teknik tertentu, seperti dilipat, dilipit, dan disimpulkan sebagai pengikat akhir. 

Iket dipakai oleh pria dari berbagai kalangan, mulai warga masyarakat umum, pegawai pemerintah, hingga ulama atau tokoh masyarakat; mulai dari anak usia sekolah sampai orang tua dan para bangsawan.

Kata iket berasal dari bahasa Sunda yang berarti “ikat” atau “ikatan”. Zaman dahulu, iket berfungsi mencerminkan kelas dalam masyarakat. Bentuknya yang beragam diciptakan sebagai simbol yang berkaitan dengan keagamaan, upacara adat, dan status sosial tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap mempunyai peranan dalam suatu kelembagaan. 

Iket sebagai tutup kepala juga memiliki nilai yang lebih berharga dibandingkan dengan tutup kepala yang lain, karena dalam proses pembentukannya diperlukan kejelian, keterampilan, ketekunan, kesabaran, dan rasa estetika yang tinggi dari pemakainya. Hal ini akan membuktikan bahwa iket dapat mencerminkan status simbol pemakainya.

Kain Iket

Totopong yang terbuat dari kain atau boéh atau mori. Totopong merupakan bentuk iket yang lebih rapi. 

Dulu boéh diartikan kain. Ada yang disebut boéh alus (kain halus), boéh siang (kain merah) dan boéh larang atau kain yang mengandung kekuatan. 

Sekarang kata boéh berarti "kain putih". Menurut kamus Umum Basa Sunda, boéh nyaeta lawon bodas tina kapas (boéh adalah kain putih dari kapas). 

Kain yang lebih halus dari boéh disebut kaci. Kata boéh sekarang ini mengalami penyempitan makna menjadi kain putih yang dipakai untuk membungkus mayit (mayat, jenazah), atau yang dikenal dengan kain kafan

Kain untuk iket Sunda selain menggunakan batik, pada zaman dahulu sebelum mengenal batik menggunakan kain polos yang disebut hideungan (kain berwarna hitam) yang dikenal dengan nama Sandelin

Kain ini dapat pula dipakai untuk celana panjang, kamprét, dan calana pangsi.

Sejarah Totopong

Sejarah mencatat, keberadaan iket menjadi warisan kebudayaan urang Sunda. Iket atau totopong menjadi kearifan lokal kerajaan sunda wiwitan (sunda buhun). 

Di daerah (wewengkon) lain juga dikenal sejenis iket, seperti Udeng yang ada di Bali, kemudian di Padang dan masih banyak lagi sesuai dengan kebudayaannya masing-masing.

Pakar sejarah menyebutkan, wilayah Sunda itu berada dari Dataran tinggi Gunung sunda yang berada di India sampai ke Australia sebelum akhirnya terpecah menjadi beberapa pulau kecil. 

Maka dari itu, tidak heran jika di setiap wilayah memiliki iket dengan khasnya masing-masing namun ada pula kemripan-kemiripannya khususnya di nusantara.

Perbedaan kata Iket dan Totopong mencakup di mana suatu daerah menyebutnya, seperti di Cianjur menyebut Totopong kemudian Ciamis. Namun secara umum urang Sunda menyebut nya dengan Iket.

Iket sebenarnya umum digunakan sebagai pelngkap busana peria, namun sekarang karena sudah mendapat suntikan kebudayaan luar, dampak dari modernisasi, sudah sering sekali kita melihat masyarakat umum mempergunakan iket. 

Iket lebih sering kita temui biasa dipakai sesepuh adat sebuah wilayah dan dalem di keraton yang sejak dahulu sudah menggunakannya. atau di wiayah kanekes (baduy dalam) yang masih menganut sunda wiwitan.

Elemen atau Unsur-Unsur Iket

Iket bukanlah hanya saceundeum kaen (sehelai kain), namun luas dari itu iket memiliki ciri dan khas tersendiri. Iket berbeda dengan sal atau penutup kepala lain sejenisnya.

Organ-organ dari iket itu sendiri memiliki corak atau motif yang berbeda-beda. 

Iket terbentuk dari kain persegi empat berukuran dengan panjang dan lebar 120 cm atau 90 cm. Terdiri dari tiga bagian, yaitu pager (gugunungan), waruga, dan modang. 
  • Pager atau gugungan yaitu garis pinggir pembatas yang biasaya bermotif / gambar gunung dan garis-garis menyerupai pager. 
  • Waruga yaitu corak motif atau gambar yang biasanya disesuaikan dengan kebudayaannya, seperti  motif burung, bunga, atau bahkan khas dari suatu daerah seperti motif Maos, Mamaos, Maenpo yang menjadi khas iket dari kabupaten Cianjur. 
  • Modang yaitu garis persegi empat yang ada ditengah iket, biasanya berwarna putih, merah dan kuning kecoklatan yang memiliki arti tersendiri.
Ada beberapa pendapat mengenai iket dengan bentuk persegi tiga yang sering kita temui di pasaran, umumnya sebagian tokoh adat Sunda tidak membolehkan iket persegi empat itu dipotong menjadi persegi empat karena memotong makna dari iket lebih jauh dari itu bahkan menghina iket. Namun sebagian lagi membolehkan dengan alasan tesendiri.

Makna dan Filosofi Iket

Dahulu iket merupakan warisan orang tua kepada anaknya yang dibuat sendiri karena memiliki doa di balik motif dan corak pada iket itu sisi agama yang digambarkan dalam iket.

Iket dikenal dengan Opat Kalima Pancer yaitu karena iket memiliki empat sisi dan satu persegi empat di tengah adalah iket yang menggambarkan acining (sumber), jati diri yang ada pada setiap diri kita yaitu api, air, angin, dan udara serta diri.

Disini lah kita dapat melihat bahwa iket memiliki maksud dan nilai filosofi sendiri, selain keindahan dan fungsi menjukan kedudukan sosial seseorang.  Iket bermaksud mengingatkan kita akan jati diri kita:
  • Api adalah sumber amarah dan keganasan, maka kita harus mampu membendamnya. 
  • Air selalu rendah hati melihat setiap yang berada di bawah kita. 
  • Udara terasa meskipun tidak terlihat memberikan kesejukan kepada sesama. 
  • Tanah adalah asal mula penciptaan kita dari tanah.
  • Diri kita lebuh ke hhubungan kita dengan Sang Pencipta. 
Dari sini dapat kita simpulka, iket atau totopong mengandung maksud mengikat, yakni mengingatkan kewajiban kita kepada Sang Pencipta --dalam Islam disebut hablum minallah (hubungan dengan Allah).

Empat acining untuk kehidupan dengan sesama dikenal dengan hablum minannas (hubungan dengan manusia). 

Keberadaan iket sekarang ini sangat dibutuhkan dengan sosilaisasi kepada seluruh masyarakat, khususnya wilayah Jawa Barat yang mayoritas penduduknya bersuku Sunda.

Iket atau totopong bukan sekadar "topi" penutup kepala, tapi memiliki makna yang sangat dalam tentang diri kita, sumber kehidupan, dan hubungan dengan Sang Pencipta, yakni Allah Swt.

Lipatan dan ikatan pada iket mempunyai arti dan makna filosofi yang berkaitan erat dengan fungsi pekerjaan seseorang zaman dulu. 

Bentuk dan Jenis-Jenis Iket

Ada sekitar 22 jenis iket sekarang ini dan masih terus berkembang dikarenakan kreativitas dan kehendak para pelestari budaya Sunda, khususnya bidang iket (Totopong).

Dahulu, jenis iket baik motif dan warna dibedakan berdasarkan status sosial seseorang. Begitu pula jenis iketannya membedakan maksud, makna, dan tujuan yang tersirat dar iketan itu sendiri.

Berikut ini sebagia jenis iket dan artinya yang dibagi dalam dua besar jenis iket: buhun dan sekarang.

Berdasarkan sejarah, iket dibagi menjadi dua bagian besar yaitu iket buhun (iket baheula/zaman dulu) dan iket kiwari (iket modern/praktis).  

A. Iket Buhun

Iket buhun merupakan model iket dari sesepuh zaman dulu di wilayah Pasundan. Iket buhun dibentuk dari kain persegi empat yang dilipat dengan aturan khusus. 

Model iket buhun antara lain Barangbang Semplak, Julang Ngapak, Parekos Jengkol, Buaya Ngangsar dan model iket lain yang biasa dipakai di kampung-kampung adat.

1. Barangbang Semplak

Barangbang semplak yaitu pelepah pohon kelapa yang sudah kering yang patah, namun masih menempel di pohon. 

Iket Barangbang Semplak diartikan sebagai dahan kering (barangbang) yang patah, namun masih menempel di pohon. Bagian atasnya terbuka tetap memperlihatkan rambut, dan culannya hampir menutupi mata.

Jenis iket ini biasa diperguanakan oleh jawara, namun untuk sekarang luas dipergunakan oleh masyarakat biasa. Iket ini juga biasa dipergunakan dalam pementasan seni pencak silat. 

2. Parekos Jengkol

Parekos memiliki arti tertutup/terbungkus, sedangkan jengkol adalah buah jengkol yang walaupun bau namun digemari oleh banyak orang. 

Parengkos Jengkol
Totopong/Iket Parekos Jengkol


Iket jenis parekos jengkol umumnya digunakan oleh para ningrat (orang terhormat, bangsawan, borjois) dengan ciri lain terdapat cula/patuk wali pada bagian kening, seperti segitiga terbalik.

3. Julang Ngapak 

Julang berasal dari nama seekor burung. Ngapak yaitu sayapnya yang mengepakan sayap karena bentuk dari iket ini menyerupai burung julang yang sedang terbang mengepakan sayapnya. 

Iket jenis ini umum dipergunakan pada tokoh lengser (penyambut tamu) dalam acara-acara adat seperti upacara adat perkawinan khas Sunda.

Masih banyak lagi jenis iketan buhun (dahulu) yang lainnya: 
  • Tug liwet/Tutup Liwet
  • Parengkos Nangka, 
  • Koncer, 
  • Kebo Ngencar, 
  • Lohe’n, 
  • Kebo Modol, 
  • Kole Nyangsang, 
  • Porteng, 
  • Rupa Iket Adat Kampung Naga, 
  • Udeng Ciptagelar.

B. Iket Kiwari (Sekarang)

Iket Kiwari adalah model iket yang berasal dari orang-orang zaman sekarang yang bentuknya menyerupai bentuk dan model iket buhun, meskipun telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan perkembangan mode dan fashion

Termasuk iket kiwari di antaranya:
  1.  Iket Candra Sumirat, 
  2. Iket Maung Leumpang, 
  3. Iket Hanjuang Nangtung, 
  4. Iket Pratis Parekos, 
  5. Iket Praktis Makuta Wangsa, 
  6. Iket Praktis Mancala Putra
  7. Iket Batu Kincir (rekaan Ki Dadang).
Iket kiwari merupakan betuk apresiasi para budayawan Sunda untuk mengembangkan penemuan dalam bidang iket, seperti jenis iket Mahkuta Wangsa yang sering kita temui yaitu melambangkan Tri Tangtu yaitu bumi, negri, dan diri.

Bentuk iket yang berbeda bukan melambangkan kasta; kedudukan; atau status sosial di masyarakat, tapi menunjukkan fungsi pekerjaan si pemakai. Hal ini dilatarbelakangi dalam Tatar Sunda tidak ada kasta namun sejajar sesuai dengan istilah Padjajaran (Pajajaran) yang mengandung arti “sejajar” atau “kesejajaran.”.

Fungsi Penggunaan Iket

Iket Sunda pada zaman dahulu memiliki fungsi tidak hanya sebagai pelengkap busana, namun juga dapat dijadikan sebagai pelengkap kegiatan sehari – hari. 

Berikut beberapa fungsi penggunaan iket bagi masyarakat Sunda:
  • Penutup rambut
  • Pelindung Kepala
  • Alat untuk melindungi diri
  • Alat untuk membawa barang
  • Dapat digunakan sebagai sajadah ketika shalat
  • Simbol status sosial pria; simbol ini ditunjukkan melalui model dan jenis kain yang digunakan untuk Iket.
  • Penghormatan terhadap kedudukan seorang pria, sebagai contoh apabila menghadap priyayi, pejabat pemerintah setempat dan ulama.
Seiring berkembangnya zaman, fungsi Iket Sunda pun memiliki beberapa penambahan, di antaranya penggunaan iket pada saat ini berfungsi:
  • Salah satu penanda etnis Sunda
  • Penanda etnis Sunda apabila memakai pakaian adat
  • Penanda etnis Sunda pada busana tarian ketika pertunjukkan.
Demikian ulasan tentang pengertian, sejarah, dan makna Totopong atau iket Sunda. (Sumber: Infobudaya).*

Video: Review Totopong Iket Sunda


0 Comments

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post