Berikut ini Sejarah Radio plus Karakteristik Radio, Profil Penyiar, dan Teknik Siaran Radio.

Sejarah Radio Plus Karakteristik, Penyiar, dan Teknik Siaran

RADIO adalah media elektronik atau media penyiaran berupa audio (suara). Radio identik dengan media hiburan, khususnya musik (lagu), dan media informasi.

Sejarah Radio

Radio telah menjalani proses perkembangan yang cukup lama sebelum menjadi media komunikasi massa seperti dewasa ini. 

Radio awalnya lebih banyak digunakan oleh militer untuk kebutuhan penyampaian informasi dan berita, ketika informasi yang dikirimkan melalui radio berhasil menyelamatkan penumpang kapal laut yang mengalami kecelakaan dan tenggelam. 

Radio menjadi medium yang teruji dalam menyampaikan informasi yang cepat dan akurat sehingga kemudian semua orang mulai melirik media ini. 

Pesawat radio yang pertama kali diciptakan, memiliki bentuk yang besar dan tidak menarik serta sulit digunakan karena menggunakan tenaga listrik dari baterai yang berukuran besar.

Tahun1926, perusahaan manufaktur radio berhasil memperbaiki kualitas produknya. Pesawat radio sudah menggunakan tenaga listrik yang ada dirumah sehingga lebih praktis, menggunakan dua konsep untuk mencari sinyal, antena dan penampilannya yang lebih baik menyerupai peralatan furniture.

Stasiun Radio Pertama

Stasiun radio pertama muncul ketika seorang ahli teknik bernama FrankConrad di Pittsburgh, Amerika Serikat (AS), tahun 1920 secara "iseng-iseng" sebagai bagian dari hobi, membangun sebuah pemancar di garasi rumahnya. 

Conrad menyiarkan lagu-lagu mengumumkan hasil pertandingan dan menyiarkan instrument musik yang dimainkan oleh anaknya sendiri. 

Dalam waktu singkat, Conrad berhasil mendapatkan pendengar yang banyak seiring dengan meningkatnya penjualan pesawat radio ketika itu. 

Stasiun radio yang dibangun Conrad itu kemudian diberi nama KDKA dan masih tetap mengudara hingga saat ini, menjadikannya sebagai stasiun radio tertuadi Amerika dan mungkin di dunia.

Frekuensi Radio AM dan FM

Pertengahan tahun 1930-an, Edwin Howard Amstrong, berhasil menemukan radio yang menggunakan frekuensi modulasi (FM). 

Radio Amstrong berbeda dengan radio yang banyak dipasaran yang menggunakan frekuensi AM (AmplitudoModulasi). Radio FM memiliki kualitas suara yang lebih bagus, jernih dan bebas dari gangguan siaran. 

Sejarah Radio di Indonesia

Di Indonesia perjalanan radio dimulai pada tahun 1925, padamasa pemerintahan Hindia-Belanda Prof. Komans dan Dr. De Groot berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan statsiun relai di Malbar, Jawa Barat. 

Kejadian ini kemudian diikuti dengan berdirinya Batavia Radio Vereniging dan NIROM.

Tahun 1930 amatir radio di Indonesia telah membentuk organisasi yang menamakan dirinya NIVERA (Netherland Indische Vereniging Radio Amateur) yang merupakan organisasi amatir radio pertama di Indonesia. Berdirinya organisasi ini disahkan oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Masa pemerintahan Jepang, tidak banyak aktivitas amatir radio yang dapat dihimpun karena pelarangan oleh pemerintah Jepang. 

Namun, banyak di antaranya yang melakukan kegiatannya sembunyi-sembunyi. Hingga tahun 1945 tercatat seorang amatir radio bernama Gunawan berhasil menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan pemancar radio sederhana buatan sendiri. 

Radio milik Gunawan menjadi benda yang tidak ternilai harganya bagi sejarah Indonesia dan sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Akhir tahun 1945 sudah ada sebuah organisasi yang dinamakan PRAI (Persatoean Radio Amatir Indonesia). 

Namun pada tahun 1952, pemerintah mulai represif mengeluarkan ketentuan bahwa pemancar radio amatir dilarang mengudara kecuali radio milik pemerintah dan bagi radio yang melanggar akan diberikan tindakan subversive. 

Kegiatan amatir radio tersebut dibekukan pada kurun waktu 1952-1965. Pembekuan tersebut berdasarkan UU No. 5 Tahun 1964 yang mengenakan sanksi terhadap mereka yang memiliki pemancar tanpa seizin pihak yang berwenang. 

Namun ditahun 1966, seiring dengan runtuhnya orde lama, antusias amatir radio untuk mulai mengudara kembali tidak terbendung lagi.

Tahun 1966 mengudara radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan kesatuan-kesatuan aksi dalam perjuangan orde baru. Dan akhirnya muncul pula beberapa radio amatir lainnya yang melakukan kegiatan penyiaran dan terbentuklah ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) pada 9 Juli 1968.

Maraknya stasiun radio dikelola seadanya maupun secara komersial menjadi ukuran bahwa media radio semakin digandrungi. Sifatnya yang bisa dinikmati dalam keadaan apapun atau sambil mengerjakan sesuatu menjadi kekuatan lebih yang tidak tertandingi yang tak tertandingi oleh jenis media lainnya.

Sehingga pertumbuhan industri televisi, internet, media cetak dan teknologi informasi lainnya tidak serta merta membuat radio terpuruk. Justru radio tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan tumbuh bersama kedahsyatan informasi teknologi (Morissan, 2008 :1-9).

Karakteristik Radio


Mark W.Hall dalam buku Broadcast Journalism mengemukakan bahwa perbedaan mendasar antara media cetak dengan radio siaran ialah media cetak dibuat untuk konsumsi mata sedangkan radio siaran untuk konsumsi telinga.

Untuk radio siaran, terdapat cara tersendiri, yakni apa yang disebut broadcast style atau gaya radio siaran. 

Gaya radio siaran ini disebabkan oleh sifat radio siaran yang mencakup (Ardianto, 2007:131-134) :

a. Auditori

Sifat audiotori itu sebagai konsekuensi dari radio siaran untuk didengar. Karena kemampuan mendengar manusia itu terbatas,maka pesan komunikasi melalui radio siaran diterima dengan selintas. 

Pendengar tidak akan dapat mendengar kembali (rehearing) informasi yang tidak jelas diterimannya, karena ia tidak bisa meminta kepada komunikator atau penyiar untuk mengulang informasi yang hilang tersebut, kecuali ia akan kehilangan informasi berikutnya bandingkan dengan media cetak ketika pembaca menemukan istilah yang tidak dipahaminnya maka ia dapat bertanya pada orang lain atau mencarinya dalam kamus. 

Dengan demikian, pesan radio siaran harus disusun secara singkat dan jelas atau concise and clear (Charnley,1965:29) atau menurut istilah Mark W.Hall,pesan radio siaran itu harus be cristal clear (1974:51)

b. Radio is the Now

Ditinjau dari nilai aktualitas berita, mestinya radio siaran dibandingkan dengan media massa lainnya adalah yang paling aktual. 

Selain hitungan waktunya dalam detik, proses penyampaian pesannya lebih simpel. Radio siaran juga seringkali melakukan liputan langsung dari tempat kejadian.

Dalam radio siaran, dikenal istilah rewriting to update (Hall,1974). Misalkan saja, sebuah pasar pada pukul 03.00 pagi terbakar. Lima menit kemudian, satpam pasar melakukan kontak dengan sebuah stasiun radio dan mengabarkan pada kru radio tentang kebakaran tersebut, jam kejadiannya, dan lokasi kejadian. 

Reporter radio tersebut tentu tidak percaya begitu saja. Dia harus menggali informasi yang lebih banyak dari pelapor, dan harus menginformasi peristiwa itu kepada pihak-pihak yang terkait seperti dinas pemadan kebakaran, polsek setempat, dan lain-lain. 

Setelah reporter itu cukup memperoleh data untuk sebuah berita, maka berita itu sudah dapat diudarakan, tanpa ia harus mandi dan berdandan rapi. Dengan terus-menerus kontak per jam dengan narasumber yang cukup kredibel, radio dapat memberiktakan perkembangan setiap jamnya sehingga pendengar selalu memperoleh informasi terbaru, dalam lead yang berubahubah sesuai dengan perkembangan peristiwa.

Media televisi juga bisa melakukan siaran dari tempat kejadian, tetapi dibutuhkan sebuah persiapan yang lebih matan dan peralatan yang lebih kompleks, seperti kamera, SNG, dan lain-lain.

c. Imajinatif

Karena hanya indra pendengaran yang digunakan oleh khalayak, dan pesannya pun selintas,maka radio siaran dapat mengajak komunikannya untuk berimajinasi. 

Dengan kata lain, perndengaran radio siaran bersifat imajinatif. Kita semua mungkin pernah nedengar reporter radiio yang melaporkan siaran langsung pertandingan sepak bola. 

Reporter dengan suara nyaring dan irama bicara yang cepat melaporkan jalannya pertandingan dengan mengikuti perpindahan bola dari satu pemain kepada pemain lainnya. 

Sekalipun tidak berada di lapangan untuk menonton pertandingan yang sesungguhnya, semosi kita seingkali terbawa suasana sebagaimana yang dilaporakan reporter, seperti ketika bola masuk ke gawang, gagalnya tendangan penalti, dan protes pemain terhadap wasit saat diberi kartu kuning. 

Imajinasi pendengar akan semakin intensif dalam acara sandiwara radio, karena dalam sandiwara radio suasana dibuat sedemikian rupa agar menyerupai keadaan yang sesungguhnya.

d. Akrab

Sifat radio lainnya adalah akrab atau intim. Seorang penyiar radi seolaholah berada di kamar pendengar, menemani pendengar yang sedang belajar atau mengerjakan pekerjaan kantor, dan mengingatkan pendengar bahwa waktu sudah laut malam, jangan lupa mematikan kompor, menutup jendela, dan lain-lain. 

Dengan akrab dan cekatan ia mengidangkan acaraacara yang bervariasi, mulai daru acara yang informatif sampai acara-acara hiburan yang menggembirakan.

e. Gaya percakapan

“Keep it simple, keep it short, keep it conversational” (Newsom,1985:107) adalah rumus-rumus penulisan berita radio. 

Penyiar radio seolah-olah bertemu ke rumah atau menemui pendengarnya di mana pun mereka berada. Dalam keadaan demikian, tidak mungkin ia berbicara dengan semangat dan berteriak. 

Sekalipun pesannya didengar oleh ribuan orang, tapi pendengar berada di tempat yang terpisahkan dan bersifat pribadi. Penyampaian pesannya pun harus bergaya percakapan (Conversational Style). 

Karena itu, menulis naskah radio siaran haruslah sebagaimana kita berbicara (write the way you talk).

f. Menjaga Mobilitas

Pada umumnya kita mendengarkan radio sambil melaukan aktivitas lain, seperti mengendarai mobil, menyetrika baju, makan, menulis, bahkan berbicara dengan orang lain. 

Mobilitas pendengar terjaga, karena pendengar tidak meninggalkan pekerjaan ketika mendengarkan radio.

Kelebihan dan Kelemahan Radio


Media radio dapat dilihat dari kekuatannya/kelemahannya (Suprapto, 2011: 145) :

A. Kelebihan Radio

1. Langsung. 

Radio adalah satu-satunya media yang memiliki kemampuan menyampaikan isi kendungan program secara langsung. Begitu suara dipancarakan, telinga pendengar langsung menangkap dan mencernanya meski sambil mengerjakan aktivitas apa pun.

2. Cepat. 

Dari segi penyampaian pesan,radio memiliki kecepatan yang sulit ditandingi oleh media lain. Suatu peristiwa yang terjadi bisa dengan cepat disiarkan oleh stasiun radio.

3. Theatre of mind

Theatre of mind artinya menciptakan gambar dalam ruang imajinasi pendengar. 

Dengan keunggulan suaranya, radio memberi pendengar kebebasan berimajinasi. Radio satu-satunya media komunikasi modern yang memiliki kemampuan istimewa dalam menciptakan gambar atau rekaan diruang imajinasi pendengarnya, dengan keunggulan semua kalangan bisa mendengar.

4. Tanpa batas. 

Radio tidak dibatasi oleh batas geografis maupun demografis. Dengan kemajuan teknologi satelit atau digital, radio bisa dinikmati pendengar diluar jangkauan frekuensi atau radius yang dimilikinya.

5. Tidak banyak pernik. 

Dibandingkan media lain,pada peliputan berita radionya cukup satu orang dengan membawa kelengkapan berupa microphone dan sebuah handphone untuk melaporkan sesuatu secara langsung.

6. Hangat dan dekat. 

Kendati tidak berhadapan langsung dengan pendengar dan terpisah jarak begitu jauh namun kedekatan dengan penyiar radio bisa terjalin dekat dan akrab.

7. Mendidik. 

Radio sangat efektif dipakai sebagai media pendidikan. Apalagi jika jangakuannya luas dan sebagian besar pendengar yang bermukim di wilayah pinggiran yang mungkin belum memiliki sarana pendidikan yang bisa dikemas dengan menarik dan mudah disimak pendengarnya.

8. Memberi manfaat bagi individu dan masyarakat. 

Dengan karakternya yang intim dan hangat, radio memiliki kemampuan untuk diakrabi oleh khalayak pendengar yang bisa sebagai tempat mencari informasi.

B. Kelemahan Radio

1. Durasi program terbatas.

Radio siaran dalams etiap programnya dibatasi durasi waktu, setiap program memiliki rentang waktunya masing-masing. 

Biasanya, maksimal durasi waktu program selama 240 menit atau 4 jam yang terbagi-bagi dengan segmen acara.

2. Sekilas dengar.

Sifat radio adalah audiotori,untuk didengar. Isi pesan atau informasi radio siaran gampang lenyap dari ingatan pendengar,untuk itu pendengar tidak bisa meminta mengulang informasi atau lagu yang sudah disiarkan.

Artinya, sifat sekilas, pesan yang disampaikan tidak rinci dan detail.

3. Menggandung gangguan.

Radio siaran sebagai media massa juga tak lepas dari gangguan yang sifatnya teknis. Karena kekuatan radio siaran adalah bunyi atau suara, maka unsur ini pula yang bisa menjadi kelemahan karena adanya gangguan sinyal, suara terdengar menghilang atau terdapat noise.

Penyiar Radio (Announcer)


Dalam bahasa Inggris, penyiar disebut announcer (arti harafiah: orang yang mengumumkan). 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyiar adalah orang yang menyiarkan atau menyeru pada radio. 

Menurut M. Habib, sebagaimana dikutip oleh Harley Prayudha dalam bukunya yang berjudul Radio (Penyiar It’s Not Just A Talk) memberikan pengertian bahwa penyiar adalah “seseorang yang bertugas menyebarkan (siar) suatu atau lebih informasi yang terjamin akurasinya dengan menggunakan radio dengan tujuan untuk diketahui oleh pendengarnya, dilakasanakan, dituruti, dan dipahami (Prayudha, 2006: 9-10)

Selain melakukan siaran, penyiar juga disebut DJ (Disk Jockey), yakni perangkai lagu, karena ia menyajikan lagu-lagu dan “bersuara” sebagai “lirik” atau perangkai antar lagu. Suara dan pembicaraan penyiar jika “pas” dengan lagulagu yang diputar akan menambah kenikmatan pendengar dalam mendengarkan lagu (Said, 2012 : 140).

Pada umumnya penyiar adalah juru bicara stasiun radio siaran. Bahkan, penyiar adalah “ujung tombak” stasiun radio, sukses tidaknya sebuah acara ditentukan oleh penyiarnya. 

Penyiar adalah seorang penampil yang melakukan pekerjaan penyiaran, menyajikan produk komersial, menyiarkan berita/informasi, akting sebagai pembawa acara atau pelawak, menangani olahraga, pewawancara, diskusi, kuis dan narasi (Said, 2012 : 141-142) .

Seorang penyiar profesional dituntut untuk mengetahui banyak hal, sebagai tolak ukur kualitas dan daya tarik dirinya, tetapi bukan untuk menggurui.

Apalagi untuk hal yang sedang hangat dibicarakan orang (hot issues) mulai dari infotainment (informasi tentang selebritis, musik, film, dan lain-lain), olahraga, ekonomi (kenaikan BBM, kurs mata uang), sampai hal yang terjadi disekitar kita (lokal).

Kelebihan media radio dibandingkan dengan media lainnya adalah informasi yang disampaikan secara cepat dan sifat lokalnya (local content) yang menjadi kekuatan media radio. 

Seorang penyiar atau siapa saja yang berkomunikasi melalui radio siaran perlu memperhatikan sifat-sifat pendengar radio, yakni selain bersifat:
  1. pribadi (personal)
  2. anonim
  3. heterogen
  4. selektif
  5. aktif.
Sasaran komunikasi seorang penyiar bejumlah jutaan orang, tetapi jumlah orang yang demikian banyak itu terdiri dari unit-unit kecil,seseorang atau sebuah keluarga yang terdiri dari suami istri tanpa atau dengan anak. 

Seseorang yang berkomunikasi dengan pendengarnya adalah bagaikan sedang bertamu kepada sebuah rumah. Baginya penghuni rumah tersebut anonim. 

Ia tidak kenal kepadanya. Sebagai seorang tamu yang berkunjung kepada orang yang tidak dikenalnya, jelas ia harus ramah. 

Karena orang-orang yang didatangi itu heterogen (berbagai latar belakang budaya, pendidikan, usia, adat,dll.), maka informasi yang disampaikan kepada tuan rumah harus dapat diterima, dimengerti, dan menarik perhatian, dan selanjutnya semuanya berminat untuk melakukan apa yang diserukan si penyiar.

Tetapi “kedatangan” penyiar itu kerumah pendengar akan diterima dengan senang hati bila sang penyiar bersikap ramah dan simpatik. 

Pendengar sifatnya selektif ; ia akan mencari memutar-mutar jaurm gelombang pesawat radionya mencari stasiun lain. Ini dapat diartikan,pendengar akan “mempesilahkan seorang penyiar pergi”, dan akan mencari penyiar lain dengan acaranya yang lebih menarik.

Berdasarkan hal di atas,ditinjau dari seni berbicara (speech), pekerjaan penyiar merupakan suatu pekerjaan yang benar-benar khas (Highly Specialized).

Pekerjaan tersebut memang dapat dipelajari seperti pekerjaan lainnya, tetapi untuk menjadi penyiar seseorang harus memiliki kwalifikasi yang tepat dan keinginan untuk memahirkan dirinya dalam lapangan penyiar radio.

Karakteristik Penyiar (Announcer)


Menjadi seorang penyiar radio dimasa sekarang ini paling tidak dapat memenuhi 4 kriteria, yaitu:

1. DJ as Sales Person

Penyiar mempunyai peranan untuk membuat pendengar tertarik, antusias, dan ingin kembali mendengarkan lagu-lagu yang diputar. 

Selain lagu, penyiar juga harus bisa membuat pendengar berminat untuk mendengarkan spot iklan yang diputar, mengikuti pesan-pesan didalam spot iklan tersebut dengan rasa ingin tahu, bahkan mempercayai semua pesan-pesan yang disampaikan. 

Penyiar adalah sales person yang mampu mengemas seluruh komponen“barang dagangannya” yang berupa lagu, iklan, dan informasi.

b. Penyiar sebagai Sahabat Pendengar

Televisi biasanya diletakkan disuatu ruang yang cukup lega agar dapat ditonton secara bersama-sama, berbeda dengan radio yang memiliki sifat lebih pribadi dan lebih intim. 

Pakar komunikasi bahkan mengatakan “Radio is a portable friend”, sahabat yang bisa dibawa ke mana-mana, bahkan di tempat pribadi sekalipun, yaitu tempat tidur atau kamar mandi.

Karena sifat radio yang pribadi itulah, maka seorang penyiar harus berusaha menjadi sahabat yang baik bagi pendengarnya. 

Sebagai sahabat yang punya derajat yang setara, pendengar biasanya tidak suka penyiar yang terlalu monoton, kasar, sombong, suka melecehkan, merendahkan, bahkan menghina pendengar. 

Jadi pendengar suka penyiar yang bisa dijadikan sahabat yang hangat, wajar dan tidak dibuat-buat.

c. Pendengar: Orang Kedua Tunggal

Penyiar menyapa pendengarnya harus akrab, dilandasi suasana intim, sangat personal, direndahkan volumenya tetapi tetap memiliki power sehingga terdengar seperti sedang bercakap-cakap dengan sahabatnya, dan menyapa pendengarnya dengan “Anda” atau “kamu” --bentuk kata ganti orang kedua tunggal, dengan menggunakan idiom-idiom bahasa percakapan layaknya sedang berbicara dengan temannya.

d. Personality Lebih Penting daripada Suara yang bagus

Bukan hanya karakteristik suara atau kemampuan vokal, tetapi juga karakteristik kepribadian bahwa menjadi seorang penyiar dituntut untuk lebih terbuka, lebih bisa familiar dengan orang-orang. 

Pada umumnya pendengar lebih tertarik pada apa yang dibicarakan penyiar dan bagaimana penyiar itu menyampaikannya daripada bagus-tidaknya suara penyiar tersebut. 

Seorang penyiar adalah salah satu sumber kepercayaan dan sumber informasi bagi pendengar, sehingga penyiar harus jujur dalam menyampaikan informasi, jika informasi belum pasti jangan disampaikan karena akan mericuhkan pendengarnya jika informasi yang disampaikan ternyata tidak benar, selain itu penyiar juga haru hangat, bersahabat, berpengetahuan luas, serta kritis, sehingga informasi yang diberikan bermutu dan dapat dipercaya.

Syarat Menjadi Penyiar 


Untuk menjadi seorang penyiar radio dibutuhkan kedisiplinan dalam membangun karakter dan kemampuan. Namun terdapat beberapa syarat umum untuk menjadi seorang penyiar radio (Prayudha,2006: 87-91)

1. Mempunyai kualitas vokal yang memadai

Dalam melakukan penilaian kualitas suara yang memadai atau tidak, sangat bergantung pada penilaian pendengarnya. 

Oleh karena itu, merekrut penyiar harus berhati-hati apakah suara penyiar tersebut apakah suara penyiar tersebut diaggap cocok dengan segmen radionya atau tidak.

Ketika jenis vokal yang diinginkan tidak dapat biasanya stasiun penyiaran radio akan melatih penyiar yang bersangkutan untuk menggoptimalkan penyesuaian karakter program yang sudah direncanakan oleh progam director. 

Yang paling penting, bagaimana seorang penyiar mampu mengoptimalkan jenis suaranya sehingga sesuai perencanaan program dan harapan pendengar.

2. Memahami format radionya dan format clock

Dalam menjalankan tugasnya, seorang penyiar harus memahami format radionya, baik format kata maupun format musik, serta aturanaturan lain yang berlaku pada stasiun radionya. 

Format di sini lebih merupakan ramuan pokok atau rencan program yang diarahkan pada pendengar tertentu. 

Format clock adalah perintah kerja mulai dari playlist, sistem rotasi musik, iklan, radio ekspose, penempatan stasiun ID/jingle, atau toleransi waktu bicara penyiar.

3. Memahami secara mendalam segmen radionya

Dengan memahami secara mendalam segmen radionya, berarti penyiar radio akan sangat paham tentang target pendengarnya. 

Penyiar juga harus mengetahui karakteristik pendengarnya maupun program apa yang mereka butuhkan dan mereka sukai.

4. Memperlihatkan simpati dan empati terhadap pendengarnya

Penyiar harus bisa berempati, maksudnya dalam upaya melayani secara optimal sebaiknya bisa mewujudkan rasa kedekatan dengan para pendengar, sekaligus harus bisa berpikir dari sudut pandang pendengar atau berempati.

5. Mampu menghasilkan gagasan-gagasan segar dan kreatif dalam siaranya

Seorang penyiar perlu menjadi kreator, karena tugasnya menhibur pendengar dengan kata-katanya. 

Agar pendengar tertarik dalam setiap siarannya selalu menghasilkan gagasan atau ide-ide segar dan selalu kreatif memunculkan hal-hal baru sesuai kondisi atau tren yang berkembang.

6. Mampu bekerja sama dalam tim

Karena bekerja di radio merupakan kerja terintegrasi antara masing-masing bagian yang terlibat dalam produksi siaran, maka seluruh praktisi penyiaran termasuk penyiar wajib memiliki kemampuan bekerja sama dan saling pengertian, menghargai, dan saling mengingatkan untuk menghasilkan output siaran yang berkualitas.

Menurut Harley Prayudha, penyiar terkadang dideskripsikan sebagai seorang yang ideal. Sifat ideal tersebut meliputi kehangatan dan kasih sayang, memiliki rasa humor dan cerdas, jujur, rasa saling berbagi sekaligus teman yang selalu menemani dengan baik, dapat dipercaya, memiliki rasa percaya diri, bersemangat, dan optimis. 

Bukan hanya itu saja, penyiar juga harus bisa memainkan peran. Peran harus dilihat dengan sesuatu yang objektif, karena memainkan emosi yang berlebihan akan menyebabkan penyiar menjadi monoton dan berdampak pada minat pendengar (Prayudha,2006: 91-92).

Keterampilan Penyiar (Basic Announcing Skills)


Secara umum ada tiga keterampilan yang harus dikuasai penyiar:

1. Announcing Skill

Announcing skills yaitu keterampilan menuturkan segala sesuatu yang menyangkut musik, kata, atau lirik lagu yang disajikan

2. Operating Skill

Operating skills yaitu keterampilan mengoperasikan peralatan siaran

3. Musical Touch

Musical touch yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuh emosi pendengar. Bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian.  (Masduki, 2005 :119).

Tips Siaran: Persiapan


Suksesnya tugas dan pekerjaan penyiar bukan saja kareana kecakapannya, tetapi juga keterampilannya. 

Berikut ini adalah beberapa hal yang termasuk keterampilah penyiar:

1. Menyediakan waktu sebelum mengudara

Sebelum mengudarakan suaranya, penyiar perlu cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. 

Paling sedikit 15 menit sebelum siaran dimulai, ia sudah harus berada di kamar penyiar. Bilamana ia datang tepat pada saat siaran akan dimulai, apalagi kalau ia datang terlambat, maka ia akan menghadapi mikrofon dengan terburu-buru. 

Situasi seperti itu akan menyebabkan ia membuat berbagai kesalahan: salah mengambil naskah, salah baca, salah ucap, dan sebagainya.

2. Mempelajari acara siaran

Acara siaran yang sedang dihadapinya harus dipelajari benar-benar apakah acara tersebut benar-benar untuk hari itu, apakah tanggal dan harinya cocok, apakah ada siaran hidup (life broadcast) dan kalau ada jam berapakah dimulainya, apakah siaran mekanik dari piringan hitam atau pita suara atau kaset,apakah ada siaran luar studio (remote broadcast), apakah ada perubahan acara,dan lain sebagainya.

3. Menghubungi operator

Mengadakan hubungan terlebih dulu dengan operator sebelum siara dimulai, merupakan salah satu keterampilan seorang penyiar. 

Kerja sama yang erat antara kedua petugas ini adalah keharusan. Bagaimanapun sebaiknya usaha seorang penyiar unutk mengudarakan sebuah acara, tanpa bantuan operator, tidak akan berhasil sebagaimana diharapkan. 

Penyiar perlu berbuat sesuatu agar terdapat kegairahan pada operator, umpamanya saja memberikan pujian ketika operator memutar piringan hitam secara baik atau pada suatu acara santai seperti acara pilihan pendengar, sesekali menyebut nama opertator.

4. Bertindak cepat dan bijaksana

Dari seorang penyiar diharapkan tindakan yang cepat dan bijaksana bila ia menjumpai suatu problema secara tiba-tiba. 

Setiap prakarsa akan dibenarkan sejauh tidak menyimpang dari policy stasiun radio yang diwakilinya. 

Sebagai contoh dapat dikemukakan, andaikan pada waktu ia bertugas diberitakan seorang menteri atau seorang tokoh masyarakat meninggal dunia yang tentunya merupakan peristiwa nasional, ia segera mengganti acara lagu-lagu gembira dengan lagu-lagu yang sesuai dengan suasana berduka cita seperti itu.

Satu hal lain yang tidak kurang pentingnya ialah kondisi badan yang selalu harus dijaga oleh penyiar agar tetap sehat.  (Effendy, 1978 :130-135) 

Teknik Siaran

Ada dua teknik siaran yang harus dikuasai oleh seorang penyiar. Pertama, teknik Ad Libitum, yaitu teknik siaran dengan cara berbicara santai, enjoy, tanpa beban atau tanpa tekanan, sesuai dengan seleranya, dan tanpa naskah. Kedua, teknik membaca naskah (script reading).

1. Teknik ad libitum

Ad libitum yaitu teknik siaran dengan cara berbicara santai, enjoy, tanpa beban atau tanpa tekanan, sesuai dengan seleranya (ad libitum means to speak at pleasure, as one wishes, as one desires) dan tanpa naskah. 

Penyiar yang menggunakan teknik ad libitum dalam melakukan siaran perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:

a. Mencatat pokok-pokok yang penting yang akan disampaikan selama siaran, seperti topik siaran dan juga addlibs atau iklan. 

b. Memelihara hubungan dengan pendengar.  

Pada pembukaan siaran menyapa dan memberikan jokes untuk mendapatkan perhatian pendengar, menanyakan kabar pendengar, dan lebih interaktif dengan pendengar, seperti menanyakan kabar dan solusi kepada pendengar dan juga memutarkan lagu permintaan pendengar. selain itu menggunakan fitur live di instagram untuk menjaga hubungan dengan pendengar.

c. Menguasai istilah-istilah khusus (jargon) dalam bidang-bidang tertentu. 
d. Menggunakan bahasa sederhana.
e. Mencegah pengucapan kata-kata tak wajar, tidak pantas ataupun kasar.

2. Teknik membaca naskah (Script Reading)

a. Memahami dan menghayati isi naskah secara keseluruhan. 
b. Menggunakan tanda-tanda khusus (sign posting) dalam naskah, seperti tanda garis miring untuk menandakan jeda pembacaan.

c. Mengeluarkan suara seakan sedang “mengobrol”.
d. Menggunakan gerakan tubuh (gesture), seperti gerakan tangan, gerakan kepala dan smilling voice untuk memberikan intonasi atau penekanan bahasa.

e. Sebelum mengudara melatih intonasi, aksentuasi, artikulasi, dan speed. 

Melatih intonasi, aksentuasi, artikulasi, dan speed sebelum memulai siaran bisa dilakukan dengan cara humming dan membaca teks siaran secara berulang.

Humming atau bersenandung merupakan salah satu cara pemanasan vocal yang dapat dilakukan sebelum bernyanyi. Humming adalah mendengungkan nada-nada dengan mulut tertutup. Humming ideal untuk pemanasan vokal.


f. Meletakkan naskah di tempat yang mudah dijangkau. 
g. Sambil berbicara, membayangkan lawan bicara ada di depan mata.

Dalam menyampaikan informasi, penyiar membayangkan lawan berbicara dengan cara berimajinasi untuk kelancaran pembacaan naskah siaran.

Pendengar Radio


Pada proses komunikasi, terdapat komunikator dan komunikan. Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan, sedangkan komunikan adalah khalayak yang menerima pesan. 

Pada radio, yang menjadi komunikator adalah penyiarnya yang menyampaikan pesan melalui media radio siaran, sementara yang menjadi komunikan adalah pendengar radio yang menerima pesan berupa isi siaran dari penyiar.

Pendengar pun dapat melakukan umpan balik dengan penyiar sehingga terjadi suatu interaksi. 

Adanya interaksi ini menimbulkan proses komunikasi antara penyiar dan pendengar, sehingga jika proses komunikasi ini berjalan dengan baik maka jika dilakukan terus menerus akan muncul komunikasi yang dekat antara penyiar dan pendengar. 

Pendengar pun akan menjadi pendengar setia. Pendengar merupakan orang-orang yang sangat loyal dan sangat bersahabat. 

Di banyak kasus, para pendengar memiliki rasa kekeluargaan yang sangat kuat terhadap stasiun radio yang mereka dengarkan. 

Tetapi jika sebuah stasiun radio ini tidak memuaskan pendengarnya, para pendengar akan segera mematikan gelombang tersebut. Mereka akan segera pindah ke gelombang radio lainnya (Prayudha,2005: 119).

Pendengar radio terbagi menurut beberapa segmen. Mereka menjadi pendengar setia atas format suatu siaran, di samping ada khalayak setia yang sangat loyal terhadap suatu stasiun favorit. 

Pendengar yang dapat dikatakan benarbenar loyal terhadap sebuah stasiun penyiaran radio akan cenderung melakukan pilihan sesuai dengan kebutuhan, keinginan, serta selera mereka masing-masing.

Tetapi, bisa saja pendengar tersebut hanya loyal terhadap satu mata acara pada stasiun radio tersebut. 

Oleh karena itu, batasan pendengar radio dibedakan berdasarkan suka atau tidak suka pada program siaran yang ditawarkan oleh stasiun penyiaran radio. maka dari itu setiap radio dapat diketahui segmentasi pendengarnya dengan jelas.

Menurut Harley Prayudha, teori psikologi umum telah merumuskan konsep persepsi pendengar yang didasarkan pada perbedaan kepribadian individu.

Setiap orang akan menanggapi isi penyiaran radio berdasarkan kepentingan mereka disesuaikan dengan kepercayaan serta nilai-nilai sosial mereka, kepercayaannya maupun nilai-nilainya maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasi penyiaran radio berbeda (Prayudha,2005: 120).

Demikian Sejarah Radio Plus Karakteristik, Penyiar, dan Teknik Siaran. (Sumber).*