Sejarah Ujungberung, Cikal Bakal Kota Bandung


RKSBMajaFM.com -- Ujung Berung atau Ujungberung adalah sebuah kecamatan di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. 

Sering disinhkat menjadi "Uber" (Ujungberung), kecamatan ini merupakan wilayah bottle neck atau leher botol di Kota Bandung jika kita akan keluar kota khususnya ke luar kota di arah timur Kota Bandung. 

Ujungberung dikenal sebagai kecamatan yang memiliki banyak pesantren dan pemandangan yang indah.

Ujungberung juga dikenal dengan seni beladiri tradisionalnya yang disebut dengan Benjang.

Kecamatan Ujungberung dibentuk berdasarkan PP No. 16 Tahun 1987 tentang perubahan batas wilayah Kota Madya daerah tingkat II Bandung dan Kabupaten daerah tingkat II Bandung dan peraturan daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2001 tentang pembentukan dan susunan organisasi kecamatan di lingkungan pemerintah Kota Bandung. 

Secara geografis wilayah kecamatan Ujungberung berada di ketinggian 668 m diatas permukaan laut. 
  1. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cibiru 
  2. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Arcamanik 
  3. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Cilengkrang 
  4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Arcamink Selatan 
Kecamatan Ujungberung terbagi ke dalam 7 tujuh kelurahan: 
  1. Kelurahan Pasir Endah 
  2. Kelurahan Cigending 
  3. Kelurahan Pasirwangi 
  4. Kelurahan Pasirjati (Radio Komunitas RKSB Maja 107,8 FM Bandung berada di wilayah kelurahan ini).
  5. Kelurahan Pasanggrahan 
  6. Kelurahan Ujungberung 
  7. Kelurahan Cisaranten Wetan.
Kecamatan Ujungberung Kota Bandung merupakan hasil pemekaran wilayah sejak tahun 1987 berdasarkan PP 16 tahun 1987. 

Namun setelah di tetapkannya Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 06 Tahun 2006 tentang Pemekaran Wialayah Kecamatan dan Kelurahan Dilingkungan Pemerintah Kota Bandung Kecamatan Ujungberung dimekarkan menjadi Kecamatan Ujungberung dan Kecamatan Cinambo.

Kecamatan Ujungberung memiliki jumlah penduduk sebanyak 71.420 jiwa.

Arti dan Asal Nama Ujungberung

Arti ujung berung adalah akhir napsu. Ujung artinya "akhir". Berung artinya "napsu".  Ngaberung artinya menurutkan hawa nafsu. Maknanya, berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif. 

Jadi, Ujungberung secara bahasa artinya "akhir sebuah napsu."

Ada dua versi sejarah nama Ujungberung, seperti disusun Anto S. Widjaya dalam buku Ujung Berung Serambi Timur Bandung.

Dari versi yang berbeda ikhwal sejarah, semua punya pesan senada. Ujungberung lekat dengan fragmen berhentinya mengumbar nafsu angkara.

1. Akhir Pengejaran Dipati Ukur

Salah satu versi, nama Ujungberung berawal dari kisah pelarian Dipati Ukur, salah satu tokoh silam Sunda. Dipati ukur dan rombongannya dikejar prajurit Mataram, hingga sampai di pinggiran danau Bandung purba sebelah timur Bandung.

Tempat itu ditumbuhi oleh tanaman bambu yang sangat lebat. Dipati Ukur dan pasukannya dapat bersembunyi sehingga tak bisa diitemukan pengejarnya. Tempat itu bernama Bojong Awi. Bojong artinya daerah tepian telaga, Awi artinya bambu.

Peristiwa itu dianggap sebagai ujung sebuah upaya pengejaran yang sangat panjang dalam nga-berung napsu (mengumbar nafsu) untuk menangkap Dipati Ukur.

2. Legenda Sangkuriang

Versi sejarah nama Ujungberung yang lain lebih klasik lagi, terkait kisah legenda Sangkuriang yang hendak meminang Dayang Sumbi, yang sesungguhnya adalah ibu kandungnya.

Untuk menghalangi keinginan tersebut, Dayang Sumbi meminta syarat untuk dibuatkan sebuah perahu dalam semalam. Sangkuriang menyanggupi, bahkan hampir dapat menyelesaikan perahu tersebut menjelang matahari terbit.

Dayang Sumbi merasa khawatir, kemudian berlari ke atas bukit dan melambai-lambaikan selendang mayang miliknya untuk memohon sang surya agar segera terbit. Permohonan tersebut terkabul, matahari pun terbit.

Versi lain menyebutkan, tindakan melambaykan selendang tersebut isyarat bagi para wanita agar menumbukkan alu ke lisung menandakan hari sudah pagi untuk mengelabui 7 guriang, makhluk gaib yang membantu pekerjaan Sangkuriang.

Sangkuriang marah dan menendang perahunya hingga tertelungkup. Konon perahu yang tertelungkup itu menjelma menjadi Gunung Tangkuban Parahu, sedangkan selendang mayang milik Dayang Sumbi berubah menjadi Gunung Manglayang.

Tempat akhir dari usaha Sangkuriang dalam mengumbar napsu untuk mewujudkan keinginannya mempersunting Dayang Sumbi disebut Ujungberung, yaitu tempat ujung-na nga-berung napsu, merupakan akhir dari napsu mengejar Dayang Sumbi.

Sejarah Ujungberung

Menurut Haryoto Kunto dalam buku Bandung Tempo Doeloe, Kota Bandung disebut juga "West Oedjoengbroeng". 

Kota Bandung hanya ada di bagian barat wilayah Ujungberung yang kemudian disebut dengan District Oejoengbroeng Koelon (Ujungberung Kulon).

Artinya, Kota Bandung dulu merupakan bagian dari wilayah Ujungberung, bukan terbalik seperti sekarang ini.

Diperkirakan, wilayah Ujungberung sudah berdiri sejak abad ke-6, dan menjadi batas wilayah Kerajaan Sunda dan Kendan. Namun data ini belum tentu akurat karena tak ada bukti tertulisnya. 

Pada masa pemerintahan Belanda, saat pembangunan Jalan Raya Pos yang melintasi Ujungberung (1811), dijelaskan bahwa wilayah Ujungberung adalah dari Cimahi ke Cileunyi (barat ke timur), dan dari Gunung Tangkuban Perahu ke Sungai Citarum (utara ke selatan).

Ibukota Ujungberung saat itu adalah Cipaganti. Bandung saat itu hanyalah nama sebuah kampung kecil yang ditemukan oleh Julien da Silva pada 1641. 

Saat itu, Pemerintah Hindia Belanda membagi menjadi dua wilayah utara dan selatan sisi Jalan Raya Pos, yakni Oedjoengbroeng Kaler (pegunungan) dan Oedjoengbroeng Kidoel (rawa-rawa).

Rafles kemudian datang dengan konsep tatakota menggunakan sistem distrik, dan membagi dua wialayah menjadi District Oedjoengbroeng Koelon dan District Oedjoengbroeng Wetan

Oedjoengbroeng wetan inilah yang kemudian beribukota Ujungberung dan pada abad 19 berada di wilayah Alun-alun Ujungberung saat ini.

Akibat Pemekaran, Nama Ujungberung Tenggelam

Menurut pemerhati sejarah Ujungberung Anto Sumiarto di blognya, sejak tahun 1991-1926 terus terjadi pemekaran wilayah kampung Bandung, lalu menghapus nama distrik Ujungberung Kulon menjadi Kotapraja Bandung.

Sebagai sebuah kota yang baru, banyak pejabat dan orang-orang penting lebih suka tinggal di Bandung. Apalagi kemudian dibangun jalur kereta dengan stasiun di kota Bandung. Ujungberung sendiri lebih dikenal dengan perkebunan kopi dan kina.

Pada tahun 1987 Ujungberung "dikerdilkan" menjadi salah satu kecamatan di wilayah Kotamadya Bandung. 

Padahal dulu, wilayah Ujungberung meliputi wilayah Bandung yang dulu hanya sebuah kampung kecil (sejak ditemukan oleh Julien da Silva tahun 1641). Sebagian wilayah Kabupaten Bandung, Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat dulunya adalah wilayah Distrik Ujungberung Kulon. (Dari berbagai sumber).*