Arti dan Asal Nama Ujungberung
Alun Alun Ujungberung Kota Bandung.*

Ujungberung (Uber) adalah nama kecamatan di Kota Bandung. Dulunya, bahkan Kota Bandung termasuk wilayah Ujungberung Berikut ini arti dan asal-usul nama Ujungberung.

Arti ujung berung adalah akhir napsu. Ujung artinya "akhir". Berung artinya "napsu".  Ngaberung artinya menurutkan hawa nafsu. Maknanya, berakhirnya gejolak hawa nafsu yang negatif. 

Jadi, Ujungberung secara bahasa artinya "akhir sebuah napsu."

Arti dan Asal Nama Ujungberung

Ada dua versi sejarah nama Ujungberung, seperti disusun Anto S. Widjaya dalam buku Ujung Berung Serambi Timur Bandung.

Dari versi yang berbeda ikhwal sejarah, semua punya pesan senada. Ujungberung lekat dengan fragmen berhentinya mengumbar napsu angkara.

1. Akhir Pengejaran Dipati Ukur

Salah satu versi, nama Ujungberung berawal dari kisah pelarian Dipati Ukur, salah satu tokoh silam Sunda. Dipati ukur dan rombongannya dikejar prajurit Mataram, hingga sampai di pinggiran danau Bandung purba sebelah timur Bandung.

Tempat itu ditumbuhi oleh tanaman bambu yang sangat lebat. Dipati Ukur dan pasukannya dapat bersembunyi sehingga tak bisa diitemukan pengejarnya. Tempat itu bernama Bojong Awi. Bojong artinya daerah tepian telaga, Awi artinya bambu.

Peristiwa itu dianggap sebagai ujung sebuah upaya pengejaran yang sangat panjang dalam nga-berung napsu (mengumbar nafsu) untuk menangkap Dipati Ukur.

2. Legenda Sangkuriang

Versi sejarah nama Ujungberung yang lain lebih klasik lagi, terkait kisah legenda Sangkuriang yang hendak meminang Dayang Sumbi, yang sesungguhnya adalah ibu kandungnya.

Untuk menghalangi keinginan tersebut, Dayang Sumbi meminta syarat untuk dibuatkan sebuah perahu dalam semalam. Sangkuriang menyanggupi, bahkan hampir dapat menyelesaikan perahu tersebut menjelang matahari terbit.

Dayang Sumbi merasa khawatir, kemudian berlari ke atas bukit dan melambai-lambaikan selendang mayang miliknya untuk memohon sang surya agar segera terbit. Permohonan tersebut terkabul, matahari pun terbit.

Versi lain menyebutkan, tindakan melambaykan selendang tersebut isyarat bagi para wanita agar menumbukkan alu ke lisung menandakan hari sudah pagi untuk mengelabui 7 guriang, makhluk gaib yang membantu pekerjaan Sangkuriang.

Sangkuriang marah dan menendang perahunya hingga tertelungkup. Konon perahu yang tertelungkup itu menjelma menjadi Gunung Tangkuban Parahu, sedangkan selendang mayang milik Dayang Sumbi berubah menjadi Gunung Manglayang.

Tempat akhir dari usaha Sangkuriang dalam mengumbar napsu untuk mewujudkan keinginannya mempersunting Dayang Sumbi disebut Ujungberung, yaitu tempat ujung-na nga-berung napsu, merupakan akhir dari napsu mengejar Dayang Sumbi.